Dec 21, 2008

Hukum Menggantung Gambar Dalam Rumah

Assalamualaikum

1.Apakah hukumnya menggantung gambar penuh atau separuh di dalam
rumah ?
2.Adakah Nas ataupun hadis yg sahih menerangkan pekara ini?

Kesudian Pihak Ustaz Untuk Menjawab saya ucapan terima kasih

Salam

Terima kasih kpd sdr Yurizal dgn soalannya kali ini iaitu berkisar mengenai subjek gambar/fotografi. Secara umumnya hukum gambar ini terbahagi kepada dua pendpt:

1) Haram secara mutlak kecuali dharurat seperti gambar IC, Passport dan seumpamanya. Pendapat ini disokong oleh Sheikh Ibn bin Bazz.
2) Harus yang difatwakan oleh Syekh Muhammad Bakhit, Mufti Mesir dan disokong oleh Dr Yusuf al-Qaradawi.

Pendapat haramnya gambar itu berlandaskan dalil berikut:

Ali bin Abu Talib juga berkata, "Rasulullah s.a.w. dalam (melawat) suatu jenazah ia bersabda: Siapakah di kalangan kamu yang akan pergi ke Madinah, maka jangan biarkan di sana satupun berhala kecuali harus kamu hancurkan, dan jangan ada satupun kubur (yang bercungkup) melainkan harus kamu ratakan dia, dan jangan ada satupun gambar kecuali harus kamu hapus dia? Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Saya! Ya, Rasulullah! Lantas ia memanggil penduduk Madinah, dan pergilah si laki-laki tersebut. Kemudian ia kembali dan berkata: Saya tidak akan membiarkan satupun berhala kecuali saya hancurkan dia, dan tidak akan ada satupun kuburan (yang bercungkup) kecuali saya ratakan dia dan tidak ada satupun gambar kecuali saya hapus dia. Kemudian Rasulullah bersabda: Barangsiapa kembali kepada salah satu dari yang tersebut maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w." (Riwayat Ahmad; dan berkata Munziri: Insya Allah sanadnya baik)

Manakala pendapat kedua iaitu harus, Dr Yusuf al-Qaradawi megatakan bhw apa yg pasti dilarang adalah gambar-gambar yang dipahat atau dilukis dan kemudiannya diagungkan. Juga termasuk gambar yg diharamkan adalah gambar yg dibuat utk menandingi ciptaan Allah. Ini berdasarkan hadis berikut:

"Masuklah! Tetapi Jibril menjawab: Bagaimana saya masuk, sedang di dalam rumahmu itu ada korden yang penuh gambar! Tetapi kalau kamu tetap akan memakainya, maka putuskanlah kepalanya atau potonglah untuk dibuat bantal atau buatlah tikar." (Riwayat Nasa'i dan Ibnu Hibban)

Dari hadis di atas, maka boleh dibuat kesimpulan bahawa gambar yg dipotong/dihinakan bolehlah dimanfaatkan. Namun begitu, bolehkah gambar yg dimaksudkan dalam hadis di atas boleh diqiaskan kpd gambar fotografi yg diambil dgn menggunakan kamera atau videocam. Dr Yusuf al-Qaradawi menerangkan bahawa kalau illatnya itu tidak ada, yang dihukumpun(ma'lulnya) tidak ada. Oleh yang demkian gambar yg diambil melalui kamera itu hukumnya harus. Dr Nasih Ulwan mengatakan keharusan ini dihubungkan dengan tujuan pergambaran itu. Jika ia untuk tujuan yg baik dan kebajikan, maka haruslah ia.

Adapun hadis yg diriwayatkan oleh Ali bin Abu Talib di atas, gambar yg dimaksudkan adalah kerana gambar-gambar/patung-patung tersebut adalah lambang kemusyrikan jahiliah yang oleh Rasulullah sangat dihajatkan kota Madinah supaya bersih dari pengaruh-pengaruhnya.

Maka berdasarkan keterangan ringkas di atas, kami(al-Ahkam) memilih pendapat Dr Yusuf al-Qaradawi. Walaupun hukum gambar fotografi ini harus, namun keharusannya bersyarat. Berikut kita sertakan kesimpulan hukum gambar(Dari fotografi dan juga lain2) oleh Dr Yusuf al-Qaradawi:

1. Macam-macam gambar yang sangat diharamkan ialah gambar-gambar yang disembah selain Allah, seperti Isa al-Masih dalam agama Kristen. Gambar seperti ini dapat membawa pelukisnya menjadi kufur, kalau dia lakukan hal itu dengan pengetahuan dan kesengajaan.
2. Begitu juga pemahat-pemahat patung, dosanya akan sangat besar apabila dimaksudkan untuk diagung-agungkan dengan cara apapun. Termasuk juga terlibat dalam dosa, orang-orang yang bersekutu dalam hal tersebut.
3. Termasuk dosa juga, orang-orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, tetapi bertujuan untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat mencipta jenis baru dan membuat seperti pembuatan Allah. Kalau begitu keadaannya dia bisa menjadi kufur. Dan ini tergantung kepada niat si pelukisnya itu sendiri.
4. Di bawah lagi patung-patung yang tidak disembah, tetapi termasuk yang diagung-agungkan, seperti patung raja-raja, kepala negara, para pemimpin dan sebagainya yang dianggap keabadian mereka itu dengan didirikan monumen-monumen yang dibangun di lapangan-lapangan dan sebagainya. Dosanya sama saja, baik patung itu satu badan penuh atau setengah badan.
5. Di bawahnya lagi ialah patung-patung binatang dengan tidak ada maksud untuk disucikan atau diagung-agungkan, dikecualikan patung mainan anak-anak dan yang tersebut dari bahan makanan seperti manisan dan sebagainya.
6. Selanjutnya ialah gambar-gambar di pagan yang oleh pelukisnya atau pemiliknya sengaja diagung-agungkan seperti gambar para penguasa dan pemimpin, lebih-lebih kalau gambar-gambar itu dipancangkan dan digantung. Lebih kuat lagi haramnya apabila yang digambar itu orang-orang zalim, ahli-ahli fasik dan golongan anti Tuhan. Mengagungkan mereka ini berarti telah meruntuhkan Islam.
7. Di bawah itu ialah gambar binatang-binatang dengan tidak ada maksud diagung-agungkan, tetapi dianggap suatu manifestasi pemborosan. Misalnya gambar gambar di dinding dan sebagainya. Ini hanya masuk yang dimakruhkan.
8. Adapun gambar-gambar pemandangan, misalnya pohon-pohonan, korma, lautan, perahu, gunung dan sebagainya, maka ini tidak dosa samasekali baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya makruh.
9. Adapun fotografi, pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan, seperti disucikan oleh pemiliknya secara keagamaan atau disanjung-sanjung secara keduniaan. Lebih-lebih kalau yang disanjung-sanjung itu justru orang-orang kafir dan ahli-ahli fasik, misalnya golongan penyembah berhala, komunis dan seniman-seniman yang telah menyimpang.
10. Terakhir, apabila patung dan gambar yang diharamkan itu bentuknya diubah atau direndahkan (dalam bentuk gambar), maka dapat pindah dari lingkungan haram menjadi halal. Seperti gambar-gambar di lantai yang biasa diinjak oleh kaki dan sandal.


Wassalam


Rujukan

Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/2039.html

0 comments:

Post a Comment